Cuaca panas siang hari yang mulai dirasakan sejak beberapa waktu ini ternyata (bisa jadi) merupakan berkah bagi para penjual es tape keliling. Ia akan lebih semangat menjajakan jualannya, lebih sumringah dari biasanya. Walau ia belum tau apakah dengan dukungan alam seperti cuaca siang ini jualannya akan lebih laku dibanding hari-hari biasa.
Penjual es semakin dekat. Senyumnya tampak setelah melihat di depan ada beberapa orang yang sedang berkumpul, saya dan sahabat-sahabat (tak ada orang lain selain kami). Barangkali, dalam hatinya berkata, 'rejeki semakin dekat saat orang-orang mulai terlihat'. Ia terus mengayuh sepedanya sambil melirik ke tempat duduk kami. Saya membalas senyumnya.
Penjual es tape lewat..
Selain saya, tak ada yang membalas senyum si Bapak Penjual es tape. Sahabat saya yang lain tetap asik dengan obrolan yang saya tinggalkan sejenak untuk membalas senyum si Bapak itu.
Senyumnya mulai hilang saat ia mulai sadar bahwa lirikan dan senyum saya hanya sebuah penghormatan dan pesan kepadanya bahwa saya menghargai lirikan dan senyumnya saja, bukan untuk membeli.
Saya nimbrung lagi dengan obrolan sahabat-sahabat. Tapi diam-diam saya masih memikirkan Bapak Penjual es tape. Saya membayangkan betapa mudah sekali untuk mendapat peluang kebahagiaan hanya dengan bertemu dengan orang. Barangkali memang dalam setiap pekerjaan diharuskan bertemu banyak orang. Karena dengan bertemu banyak orang walau tidak langsung memberi kebahagiaan, setidaknya ia mendapat sebuah peluang kebahagiaan, walau hanya dengan senyuman.
Kamis, 03 September 2015
Jumat, 06 Maret 2015
Mila, Kita Kencan Lagi
Pukul 20.48 WIB (3 Maret 2015) Saya dan Mila (lagi) keluar dari Terminal Tawang Alun mengarah ke barat, rute yang biasa, Jember - Jogja.
Seperti biasa, saya menghubungi tiga orang kenek Mila Sejahtera, Pak Agung, Pak Darmaji, dan Pak Hamid. Ternyata Pak Agung libur, mesin Bisnya dalam perbaikan, Pak Darmaji tak merespon, Pak Hamid menjelaskan bahwa hari ini pemberangkatan terakhir jam 21.00 WIB.
Sebelumnya saya berencana naik di Terminal Pakusari karena dekat dari rumah. Tapi, semua Bis Mila yg berangkat hari ini startnya di Twg Alun. Saya membatin, 'pasti sewaktu dari Jogja penumpang yg dibawa tidak seberapa. Sehingga untung yang didapat tidak seberapa pula jika perjalanan dilanjut ke Banyuwangi.' Saya freehatin.
Wuss... Tiba di terminal. Saya yakin masih ada Bis Mila. Harapan awal adalah naik Mila Donadoni. Saya tengok kiri-kanan. Adanya hanya Mila Bledex, adik Mila Predator (iya tah?).
Jika dalam setiap perjalanan pulang atau balik saya mengejar Donadoni dengan niatan agar menikmati lomba lari dengan Sumber Selamat. Maka dengan Mila yang lain niat saya adalah berbagi rejeki. Daripada saya bagi dengan Bis Akas Asri mending saya bagi ke Mila Sejahtera. Alasannya sederhana, rejeki Bis Mila mulai berkurang karena armada yg ia miliki kalah dengan Akas Asri. Dari interior, jarak masing-masing kursi, AC (Mila hanya satu yang menggunakan AC yaitu Armada Pak Darmaji. Sisanga tidak pakai AC padahal harga sama dengan Mila yg lain Atau Akas Asri). Namun dalam hal kecepatan dan kesantunan supir dalam menyalip saya kira Mila masih juara. :D
Pukul 21.17 WIB lampu Bis Mulai dimatikan. Saya Luthfi. Penumpang Setia Mila Sejahtera. Salam.
#CatatanPerjalanan #bismania
Kencan Malam Jumat Dengan Mila
Awalnya saya sudah malas untuk pulang karena kenek Mila Predator (Pak Agung) dan Mila (Darmaji) yang saya hubungi kemarin sore (25 Februari '15) menyampaikan bahwa tidak ada Mila Sejahtera yg berangkat sampai hari sabtu untuk trayek Jogja - Banyuwangi. Entah kenapa. Saya tak bertanya alasannya.
Semenjak saya di Jogja, rute perjalanan pulang saya selalu sama, Jogja - Mojokerto - Jember. Kadang menggunakan motor, mobil, dan kadang ngebis seperti sekarang ini. Pernah sekali berbeda rute, yaitu Jogja - Surabaya - Jember. Jogja - Surabaya saya lalui bersama Sumber Selamat (Saya lupa plat nomornya. Tapi awalnya pasti 'W'), Surabaya - Jember bersama Restu (Tak ingat sama sekali plat nomornya). Waktu itu saya terburu-buru karena harus pulang ke rumah agar dapat mengikuti prosesi pemakaman Alm. Bapak di keesokan harinya.
Pukul 18.12 WIB, saya tiba di terminal. Lewat jalur belakang seperti biasa (Hotel TPI). Saya melirik ke kanan, ke deretan Bis Efisiensi yg belum terisi penumpang. Di belakang Bis dua keneknya duduk sambil menghisap rokok masing-masing. Keduanya melirik saya, tapi cuma sebentar, mungkin hanya tiga detik - empat detik. Tak ada pertanyaan atau ajakan kepada saya untuk ikut bis vip itu. Mungkin mereka sudah menebak. Saya yg memakai kaos seorang Tokoh Besar Indonesia, Mahbub Junaidi, dengan dandanan ala kadarnya seperti kebanyakan penerusnya dan tambahan kacamata entah minus atau silinder di atas rambut (seperti bando), tidak mungkin ikut bis sekelas bisnya. Melihat respon mereka, saya pun menatapnya tidak jauh lebih banyak dari mereka, mungkin 4,5 detik. Saya juga cuek. Karena memang tak mungkin menyapa mereka. Menurut bahasa aktivis, belum punya kepentingan politik. Mereka tak seperti Pak Agung, Pak Darmaji, dan Pak Hamid yg baru saja saya minta nomer handphonenya, kenek efisiensi tersebut sok elitis. Seperti anggota DPR yg kedatangan tamu untuk dimintai sumbangan dana.
Saya lupakan kenek itu, toh kalau pulang kampung saya tidak naik bisnya. Mungkin kalau k purwokerto saja jika diajak jalan-jalan oleh Naufil.
Saya lanjutkan langkah kaki melewati dua toko yg berhadapan untuk sampai di parkiran atau tempat Bis AKAP menunggu penumpang. Aha... Ternyata Mila Bumel beroperaai hari ini. Gambar ebBIS Saya datangi keneknya kemudian bercerita tentang tidak berangkatnya Pak Agung dan Pak Darmaji. Saya ingin menanyakan lebih dalam (Seperti skripsi saya yg datanya harus mendalam). Tapi saya urungkan. Sepertinya ia tidak ingin berbagi terkait ketidakberangkatan kedua koleganya tersebut. Ya sudah, saya urungkan. Saya tidak bertanya lagi. Saya mencoba tidak meniru beberapa dosen penguji skripsi yg biasa bertanya sampe detail-sedetail-detailnya.
Pukul 18.21 saya pamit dan menyalami gadis yg mengantar saya, Gadis Bulaksumur. Ya seperti biasa, dia senyum dan 15 menit kemudian pasti akan mengirim pesan 'hati-hati'. Saya tidak langsung membalas karena saya sedang menulis catatan ini. Sebentar lagi akan saya balas begini, 'Iya, nanti tak sampein ke pak supir'. Saya akan melanjutkan catatan ini karena belum ada sisi yg menarik. Tapi karena kantuk sudah menyerang. Di situ kadang saya merasa sedih.
Delanggu, 19.37 WIB. with Mila Bumel N 7248 US
*Foto diambil oleh Blacberry Pearl 9105
Catatan #perjalanan #ngebBIS #bismania#Bis #penumpang #setia
Sabtu, 03 November 2012
Lestarikan “Telingaku”!
“Kalau dulu banyak mas yang pake kayak gitu (telinga panjang), kalo sekarang udah jarang. Kalaupun ada, mungkin hanya beberapa
orang, itu pun mayoritas udah berumur diatas 50 tahun.” Jawab Afif ketika
ditanya tentang salah satu tradisi suku dayak di Kalimantan Timur.
Memanjangkan Telinga, adalah termasuk dalam salah satu kekayaan
budaya atau tradisi yang dimiliki Indonesia dan patut untuk dijaga
kelestariannya. Tradisi ini, banyak dipraktekkan di daerah Kalimantan Timur,
khususnya suku Dayak. Untuk kaum laki-laki, panjang daun telinga adalah sebahu
sedangkan untuk perempuan adalah di atas buah dada.
Proses pemanjangan daun telinga dimulai sejak balita dengan
memberikan anting-anting yang ukurannya menyesuaikan dengan usia balita.
“Biasanya mas, kalo umurnya masih
satu tahun, itu dikasi anting yang kecil dan kalo dianggap sudah cukup untuk diganti dengan anting yang
ukurannya lebih besar, baru diganti.” Afif menjelaskan.
Pemanjangan telinga ini bertujuan untuk menunjukan identitas
diri dari suku Dayak. Bahkan di kalangan tertentu, ada beberapa model anting
yang dipasang untuk menunjukkan bahwa suatu kelompok lebih tinggi kasta nya
daripada kelompok yang lain.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi memanjangkan
telinga ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat suku Dayak. Karena terpaan
budaya dan modernisasi dari berbagai penjuru. Akibatnya, jika masyarakat suku
Dayak bertemu dengan masyarakat dari suku atau daerah lain, dia (suku Dayak)
merasa risih, karena respon atas kehadirannya tidak sama dengan respon terhadap
suku/warga lain - seakan-akan suku Dayak berbeda dengan yang lain. akibatnya,
timbul tekanan psikologis tersendiri bagi suku Dayak tersebut.
“Kalau di sekitar tempat saya bisa dibilang sudah gak ada
yang kayak gitu lagi, mas. Dulu, anak-anak seumuran saya hampir gak ada yang
dipanjangkan telinganya. Mungkin para orang tuanya takut jika anaknya diolok-olok saat bertemu dengan orang
lain yang beda suku.” Afif menambahkan.
Tradisi memanjangkan telinga bukan satu-satunya tradisi yang
hampir ditinggalkan di Indonesia. Hal ini disebabkan terpaan budaya barat melalui
media yang tidak seimbang sehingga mengakibatkan timbulnya perasaan untuk
meniru budaya-budaya barat itu. Maka, tidak menutup kemungkinan akan timbulnya
anggapan bahwa budaya dan tradisi kita adalah sesuatu yang sudah kuno dan bukan
jamannya untuk tetap dipertahankan.
Jika sudah begini keadaannya, apa yang akan kita (generasi muda)
lakukan? [hydra-zone]
Per-Empu-an Minang
Memotret
kesukuan di Indonesia, tak lengkap rasanya tanpa melirik adat Minang.
Tak seperti kebanyakan suku di daerah lainnya, Minang memiliki adat yang
cukup unik. Jika di daerah lain trah laki-laki
begitu gagah dan menempati posisi tinggi dalam sistem kekeluargaan, di
Minang, tidak. Sebaliknya, garis keturunan perempuanlah yang dianggap
“emas”. Kita tak perlu jauh-jauh kembali ke zaman prasejarah untuk
menemukan tradisi matrilineal, karena hingga hari ini, di Minang
tradisi Matrilinealisme masih berlangsung elok.
Alam,
seorang mahasiswa jurusan Hukum Universitas Gadjah Mada, asal Suku Tanjung
mengatakan bahwa tradisi Matrilineal sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum
Belanda masuk ke Indonesia. Menurutnya, tradisi matrilineal dimaksudkan untuk
menjaga harta atau warisan yang sudah diturunkan oleh nenek moyangnya secara
turun-temurun agar mampu dijaga dengan baik dan tidak beralih ke tangan orang
lain yang tidak berasal dari keluarga keturunannya(baca: keturunan nenek moyang). Dalam hal ini, perempuanlah yang dianggap
mampu menjaga warisan tersebut.
Alam
mencontohkan dirinya, dalam keluarganya yang berkecukupan, Alam (dalam
berperilaku dan bergaul ) tidak begitu menampakkan bahwa dirinya adalah orang
yang berkecukupan. Alam tidak begitu menggantungkan hidupnya kepada harta yang
dimiliki keluarganya di rumah. Karena Alam paham, bahwa harta yang dimiliki
oleh keluarganya di rumah, nantinya akan dikelola oleh adik perempuan Alam. Dan
Alam tidak akan “mengusik” harta itu. Tindakan Alam ini, bukan karena tradisi matrilineal saja, melainkan karena di
Suku Minang, Seorang laki-laki akan lebih “berharga dan berwibawa” jika dia
telah merantau (Melanjutkan pendidikan, berdagang dll). Dalam arti lainnya, “kewibawaan”
seseorang tidak akan diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya, apa
pekerjaannya, atau apa jabatannya. Melainkan, seberapa tinggikah ilmunya dan
seberapa luaskah pengalamannya.
Tradisi matrilineal,
hingga kini masih berlaku di kalangan masyarakat minang. Meskipun mayoritas
pemuda-pemudinya banyak yang sudah merantau dan banyak mendapatkan pengetahuan
dan pengalaman-pengalaman baru, mereka (baca: pemuda-pemudi) belum
punya niatan untuk merubah tradisi matrilineal
tersebut. Karena selama ini mereka masih yakin bahwa memang perempuanlah yang
mampu menjaga warisan dan pesan nenek moyang tersebut. [hydra-zone]
Beliau Tidak Seperti Kacang yang Lupa Sama Kulitnya
Menjadi seorang bupati adalah suatu
profesi yang banyak diminati dan menjanjikan di “mata” kita. Di sisi lain, profesi Bupati
ini, di kalangan masyarakat tertentu – terutama masyarakat desa - dianggap sebagai sebuah pencapaian
yang lumayan baik. Lain
halnya dengan Bupati Kabupaten
Musi Rawas, yang juga Alumni Universitas Islam Indonesia dan
alumni Asrama Komunitas Musi Rawas yang saat ini dipercayai untuk menjadi
Bupati di kabupaten Musi Rawas, tidak menjadikan jabatan yang sudah diraihnya sebagai sebuah pencapaian
yang nantinya akan mengangkat namanya di mata masyarakat.
Ridwan
Mukti, tidak hanya terjun ke daerahnya dan melupakan proses belajarnya semasa
kuliahnya dulu. Dalam beberapa kesempatan, Ridwan Mukti juga ikut andil dan
mengayomi Komunitas Musi Rawas yang pernah dipimpinnya dahulu. Salah satunya
dengan cara membantu peremajaan Asrama Komunitas Musi Rawas yang ada di
Yogyakarta. Di sisi lain, Ridwan Mukti juga banyak mensosialisasikan keberadaan
komunitas ini kepada masyarakat atau pelajar yang hendak mencari ilmu di kota
Yogyakarta. Di samping itu sosialisasi ini juga bertujuan untuk masyarakat yang
akan berkunjung ke Yogyakarta dan ingin
melihat perkembangan pelajar atau mahasiswa Musi Rawas yang sedang menimba
ilmu di Yogyakarta. “Pak Ridwan itu kadang bersosialisasi seputar komunitas ini
kepada masyarakat. Ya siapa tau nanti anaknya mau kuliah di Jogja kan bisa
tinggal di sini. Biar nanti tambah banyak lah temen saya.” Cerita Libra sambil
tersenyum. [hydra-zone]
Ridwan
Mukti, pria kelahiran Lubuklinggau 21 Mei 1963 ini adalah mantan anggota DPR RI
(Dua periode) dan Fungsionaris partai Golkar ini adalah sosok yang selama ini
dijadikan contoh oleh sahabat-sahabat anggota Komunitas Musi Rawas di
Yogyakarta.
“Selama beberapa
tahun terakhir kita selalu menjadikan Beliau sebagai panutan dalam
berorganisasi. Beliau tidak seperti kacang yang lupa sama kulitnya. Karena
menurut saya diantara kelebihan-kelebihannya adalah dia berani kembali ke
daerah saya (Musi Rawas) meskipun
sebenarnya dia sudah sejahtera di Jakarta.” Ujar Libra selaku Ketua Asrama Komunitas
Musi Rawas, saat ditemui di Jl. Tamansiswa No. 868.
Sebelumnya,
Ridwan Mukti menjadi Anggota DPR RI selama dua periode kemudian menjabat Bupati
di Musi Rawas selama dua periode pula, periode pertama 2005-2010 dan periode
kedua 2010-2015.
Jumat, 02 Maret 2012
Tentang, ah!
Dan ketika kau bertanya
Tentang diamku
Aku sudah menjawabnya
Bersamaan dengan semilir angin
Yang membuat rokmu tergerai
;sudahkah engkau merasakannya
Ah..
Tak perlulah kau jawab
Aku sudah bisa melihatnya
Dari bulu-bulu betismu
Tak ada senyum disitu
Ketidakteraturan bulumu
Dan bintik-bintik hitam itu
Membuatku tahu
Kau belum merasakan
Angin itu!
Kos barat, 02042011
Tentang diamku
Aku sudah menjawabnya
Bersamaan dengan semilir angin
Yang membuat rokmu tergerai
;sudahkah engkau merasakannya
Ah..
Tak perlulah kau jawab
Aku sudah bisa melihatnya
Dari bulu-bulu betismu
Tak ada senyum disitu
Ketidakteraturan bulumu
Dan bintik-bintik hitam itu
Membuatku tahu
Kau belum merasakan
Angin itu!
Kos barat, 02042011
Langganan:
Postingan (Atom)
